Lima Langkah Menerangi Penjuru Negeri

Jangan biarkan kegelapan terus menyelimuti saudara-saudara kita di manapun mereka berada. Semua orang layak untuk menikmati kehidupan yang 'terang'. Sulit memang, tetapi pasti bisa. Mulai dari sendiri sendiri dan mulai dari sekarang. Beban ini ada di pundak Anda kawan-kawan di PLN. Banyak tugas yang harus dikerjakan, banyak lampu dan masa depan yang harus dinyalakan.
Jayalah selalu PLN.

Sebagai ujung tombak penyedia listrik negara, PLN memiliki tanggung jawab dalam rangka ketersediaan listrik di seluruh wilayah negara. Dengan area Negara Indonesia yang sangat luas ini, tentu tidak mudah untuk mewujudkan hal itu. Listrik kini telah menjadi kebutuhan primer bagi hampir seluruh warga di dunia. Mulai dari yang terkecil,  untuk menyalakan lampu saja misalnya, sudah pasti membutuhkan listrik. Ditambah lagi dengan semua kemajuan teknologi saat ini yang membutuhkan listrik sebagai energi utama. Namun, kenyataannya masih banyak masyarakat di negeri ini yang masih kurang atau bahkan belum menikmati listrik sama sekali sebagai energi penggerak kehidupan mereka.


Listrik bukan sekadar menyalakan lampu, melainkan juga membawa masyarakat ke kehidupan yang lebih maju. Berikut ini lima langkah yang harus menjadi perhatian bagi seluruh stakeholder kelistrikan negara. Mungkin masih banyak langkah-langkah lain yang juga harus dikerjakan, baik itu di sisi kebijakan hingga langkah-langkah teknis di dalamnya.

1. Bersihkan Diri Sendiri Lebih Dahulu
Bagaimana bisa mewujudkan cita-cita kalau di dalam diri sendiri masih banyak penyakit yang mengganggu? Banyak pepatah yang mengatakan, sebelum membersihkan orang lain, bersihkan dulu dirimu sendiri. Mungkin ini langkah pertama yang seharusnya dilakukan PLN sebelum mewujudkan cita-cita mulianya. Seluruh jajaran di dalam tubuh PLN, mulai dari pimpinan tertinggi hingga karyawan terendah, mulailah membenahi diri sendiri. Di dalam lingkup organisasi, reformasi birokrasi menjadi kunci utamanya. Seperti yang kita ketahui, reformasi ini setidaknya menyangkut tiga hal, yaitu struktur kelembagaan, proses bisnis, dan sumber daya manusia. Dengan adanya sistem yang baik dan benar di dalam tubuh organisasi, maka ia siap untuk memberikan kontribusi optimal ke dunia luar. Sistem yang sudah baik tentunya harus tetap dijaga dan dikembangkan menjadi lebih baik. Dibutuhkan pengawasan internal untuk mengontrol semua tindakan organisasi. Bahkan bila perlu, intensifkan keterlibatan pihak eksternal dalam mengawasi kinerja organisasi ini.

2. Rencana dan Eksekusi
Sebelum terjun ke masyarakat untuk melakukan "pengabdian", pikirkanlah rencana keseluruhan, lalu tuangkan ke dalam strategi pelaksanaan yang matang. Sehingga akan ada pedoman dalam setiap tindakan yang akan diambil. Pasti sangat rumit untuk menyusun rencana untuk tujuan yang sangat besar. Namun, rencana merupakan kunci penting sebelum pelaksanaan. "If you fail to plan, you are planning to fail"
Jika rencana dan strategi telah tersusun dengan baik dan siap untuk dieksekusi, maka lakukanlah dengan efektif dan efisien. Efektif adalah untuk mencapai tujuan secara tepat sasaran dan efisien adalah untuk menggunakan sumber daya seoptimal mungkin. Saya yakin sudah banyak peraturan yang mendasari pekerjaan di tubuh organisasi. Misalnya saja SOP 'Standar Operating Procedure', maka penuhilah standar-standar itu. Dan berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

3. Monopoli Harga untuk Kesejahteraan
Harga menjadi unsur vital dalam penyediaan listrik. Sampai saat ini, beban subsidi listrik di APBN masih sangat besar. Dan besar pula keyakinan saya bahwa beban ini diakibatkan ketidakadilan harga bagi pengguna-pengguna listrik negara. Banyak masyarakat di daerah terpencil yang mungkin sengaja tidak ingin memasang listrik di rumah mereka karena mereka sadar tidak akan mampu membayarnya. Di sisi lain, semakin banyak pengusaha besar yang menguras penggunaan listrik demi meraih keuntungan sebesar mungkin dari kegiatan usahanya. Yang saya harapkan, berikan listrik dan kehidupan itu 'gratis' kepada orang-orang di pedalaman. Lalu berikan harga tinggi bagi orang-orang kaya dan pebisnis besar. Sebagai perusahaan yang memegang monopoli listrik negara, rasanya tidak perlu takut untuk mengendalikan harga. Mereka yang mampu tetap akan membayar karena pasti mereka membutuhkan listrik ini. Sedangkan mereka yang tidak mampu, tentu mereka pasrah dalam kegelapan bila harga yang ditetapkan adalah sama. Tidak perlu takut pada ancaman, hinaan, atau apapun macamnya halangan yang muncul dari pihak-pihak yang tidak setuju. Kita berikan kesejahteraan yang merata di seluruh penjuru negeri ini.

4. Bahu Membahu dengan Masyarakat
Jangan lupakan pentingnya keberadaan warga setempat. Di pelosok-pelosok negeri, merekalah yang mengerti keadaan daerah tersebut. Lakukan pendekatan persuasif, berikan sosialisasi secara bertahap mengenai pentingnya listrik dalam kehidupan mereka, dan manfaatkan sifat kebersamaan yang telah ada di daerah tersebut untuk ikut bahu membahu membangun serta memelihara sarana prasarana listrik di lingkungan mereka. Dengan begitu, pekerjaan akan menjadi lebih ringan. Masyarakat sekitar diharapkan juga ada rasa memiliki terhadap sarana prasarana tersebut.
Tidak hanya di daerah-daerah pelosok, di daerah yang sudah maju pun, berikanlah rasa memiliki itu sehingga tidak akan terjadi penyalahgunaan listrik negara. Setidaknya, pengetahuan mengenai keterbatasan energi listrik dimiliki oleh masyarakat sehingga terwujudlah gerakan hemat listrik nasional.

5. Tidak Hanya Cahaya Lampu, Berikan Juga Cahaya Kehidupan
Dalam pencapaian suatu rencana, kita mengenal yang disebut dengan output, outcome, impact, dan benefit. Bukanlah output yang merupakan titik akhir dari suatu pencapaian. Output atau keluaran hanyalah sarana dalam mencapai dampak-dampak positif berikutnya. Keluaran hanyalah media untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Memang suatu output berupa pembangkit listrik atau sebuah instalasi misalnya, sangat diperlukan. Namun, bukanlah berhenti pada titik itu saja yang menjadi tanggung jawab PLN. Lebih dari itu, outcome, impact, dan benefit lah yang akan membawa kehidupan masyarakat menjadi lebih terang. Cahaya itu tidak sebatas tembok-tembok pembatas ruangan, tetapi cahaya itu juga harus mampu menembus masa depan Indonesia yang lebih baik. Peran CSR yang optimal diharapkan mampu menghidupkan sisi-sisi lain dari hebatnya energi listrik. Dengan energi listrik, maka arus informasi ke seluruh penjuru negeri akan terus berjalan. Dari situlah masa depan anak-anak bangsa ini akan terus mengalir pula layaknya aliran listrik dalam serat optik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar