Pengaruh Posistivisme dan Permasalahan Praktis Seputar Positivisme

lanjutan dari artikel "Perkembangan Akal Budi Manusia dan Positivisme: Filsafat Auguste Comte"


Pengaruh Positivisme Auguste Comte

Sangat sulit mengukur pengaruh suatu pemikiran filsafat seperti positivisme yang dikemukakan Auguste Comte. Rentang waktu yang sangat panjang antara terbitnya buku utama Comte, Cours de philosophie positive (6 Volume, 1830-1842) hingga hari ini, sehingga sangat sulit untuk menilai daya jangkau dan kontribusi positivisme Comte pada berbagai unsur kebudayaan masa kini. Namun, berikut ini beberapa pengaruh positivisme Comte yang diambil dari disertasi Koento Wibisono, Arti Perkembangan Menurut Filsafat Auguste Comte. Menurut pengamatan ahli filsafat barat ini, kontribusi positivisme Comte dalam kebudayaan barat paling tidak tampak dari:


1. Semakin tebalnya optimisme masyarakat barat yang telah timbul sejak zaman Aufklarung mengenai hari depan umat manusia yang semakin baik atau maju.

2. Semangat eksploratif dan ilmiah para ilmuwan sedemikian rupa, sehingga mendorong lahirnya model-model ilmu pengetahuan yang positif, yang lepas dari muatan spekulatif.

3. Konsepsi yang semakin meluas tentang kemajuan atau modernisasi yang menitikberatkan pada kemajuan dan modernisasi dalam bidang ekonomi, fisik, dan teknologi.

4. Menguatnya golongan teknokrat dan industriawan dalam pemerintahan.


Permasalahan Praktis di Seputar Positivisme

Jika benar bahwa pengaruh positivisme seperti yang dijelaskan di atas, dalam bidang pembangunan dan industrialisasi, misalnya, jika ilmu pengetahuan adalah satu-satunya motor penggerak kemajuan, dan industrialisasi adalah wujud nyata dari kemajuan, maka bangunan-bangunan fisik material pada akhirnya merupakan tolok ukur dari keberhasilan pembangunan. Sedangkan pembangunan mental spiritual diandaikan dengan sendirinya mengikuti pembangunan fisik material.

Hal yang sama terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jika tolok ukur keberhasilan pembangunan adalah kemajuan di bidang fisik material, maka sasaran atau orientasi hidup manusia ditujukan untuk mendapat sebanyak-banyaknya kekayaan material. Maka, konsekuensi etis dan psikologisnya pun bisa kita saksikan dalam masyarakat. Pertama, kebutuhan manusia digiring pada "orientasi tujuan" sehingga masalah etika dan moral menjadi dimarginalkan. Tujuan hidup bukan pada kebahagiaan dan kenikmatan dalam bekerja, melainkan pada perolehan sebanyak-banyaknya hasil dalam waktu singkat. Kedua, harga diri dan martabat seseorang/bangsa ditentukan dari seberapa besar akses ekonomis yang dimiliki oleh orang/bangsa tersebut. Semakin besar akses dan kontribusi ekonomis orang/bangsa, semakin tinggi harga diri dan martabat orang/bangsa tersebut. Kualitas pribadi dan kemanusiaan hanyalah nilai yang bersifat periferal.

Persoalan lainnya berkaitan dengan nilai dalam kesenian. Nilai estetik suatu lukisan misalnya, tidak lagi diukur dari nilai intrinsiknya, melainkan dari nilai ekonomisnya. Bukan lagi lukisan yang bernilai estetika tinggi yang memiliki nilai ekonomis mahal, melainkan lukisan yang memiliki nilai ekonomis mahal yang dianggap bernilai estetika tinggi.

Konsepsi Comte tentang bersatunya kemajuan dan ketertiban (progress and order) menimbulkan masalah lain lagi. Mungkin benar bahwa kemajuan industri di beberapa negara maju membawa ketertiban dalam sistem sosial mereka. Namun, bila tidak terjadi ketertiban, maka the ruler class seolah-olah mendapat justifikasi untuk memaksakan ketertiban, kalau perlu secara represif (physical force). Kenyataan bahwa physical force menjadi alat ampuh mewujudkan ketertiban sering dijumpai pada negara berkembang, termasuk negeri kita sendiri, semasa Orde Baru, disebabkan keinginan penguasa untuk mewujudkan kemajuan dan ketertiban sekaligus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar