Sierra Leone: Diamond in The Dark


Sierra Leone adalah salah satu negara bekas koloni Inggris pada abad ke-19. Pada saat itu Inggris sedang mengalami stagnasi dan depresi ekonomi karena sangat kekurangan sumber daya alam. Pada tahun 1930, sebuah tim survei geologi menemukan berlian di Distrik Kono. Sejak penemuan berlian ini, pemerintah kolonial mulai memanfaatkan berlian sebagai sumber pendapatan mereka. Pada awal tahun 1950-an, sejumlah besar penambang gelap dari negara-negara tetangga datang ke Sierra Leone. Pada tahun 1956, telah terdapat 75.000 penambang gelap yang melakukan penyelundupan berlian dalam skala besar.

Tindakan dari para penambang gelap berlian ini telah menyebabkan kekacauan hukum dan peraturan di Sierra Leone. Peristiwa penyelundupan berlian dalam skala besar ini disebut dengan istilah Great Diamond Rush. Pada tahun 1961 , Sierra Leone memperoleh kemerdekaan dari pemerintah kolonial Inggris. Negara yang baru merdeka ini diperintah oleh Milton Margai dengan cara memerintah yang sama dengan pemerintah ko lonial Inggris. Kemudian pada tahun 1967, Siaka Stevens memenangkan pemilihan umum dan menjadi Presiden Sierra Leone berikutnya. Stevens memberikan dukungan kepada kelompok penambang gelap berlian. Selain itu, Stevens dan rekan-rekannya juga mengeksploitasi berlian untuk kepentingan pribadi mereka. Setelah Stevens pensiun, ia menunjuk Kepala Militer Mayor Jenderal Joseph Saidu Momoh sebagai penggantinya. Pemerintahan Momoh menunjukkan tanda-tanda kehancuran karena didominasi oleh sisa-sisa Rezim Stevens yang korup. Akibatnya, perekonomian negara menjadi collapse sehingga negara kekurangan pendapatan fiskal dan rakyat kehilangan kesempatan ekonomi serta bantuan sosial.

Pada tahun 1991, Revolutionary United Front (RUF) melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Momoh dari Liberia. Pada saat inilah konlflik internal di Sierra Leone dimulai. RUF ini merupakan gerakan pemberontak yang didukung oleh Charles Taylor dari Liberia. Sejak tahun 1995, RUF mulai mengambil alih kendali terhadap pertambangan berlian di Distrik Kano, dan kepentingan RUF terhadap berlian menjadi lebih terfokus. Wilayah pertambangan berlian Kano dan Tonga menjadi lokus militer utama RUF, dan pertambangan berlian menjadi sumber pengalaman utama pelatihan mereka. RUF menjadi sangat terobsesi dengan berlian sehingga kelompok ini sendiri didominasi oleh kebanyakan bekas penambang gelap berlian. RUF menggunakan berlian untuk membiayai pemberontakannya selama konllik internal berlangsung dengan dukungan Liberia.




Dilihat dari situasi ekonominya, Sierra Leone dikategorikan oleh CIA sebagai Negara yang berpenghasilan sangat buruk. Keadaan ini diperparah dengan infrastruktur sosial dan fisikalnya yang belum 100% pulih dari perang saudara. GDP (PPP) tahun 2010 dari Sierra Leone adalah 4,812 US$ menempati urutan ke-162 di dunia. Serta GDP (PPP)-per kapitanya hanya berkisar 900US$, menempati urutan ke 219 di dunia. Hal ini terlihat sangat kontras, dibandingkan dengan sumber daya alamnya yang memiliki muatan mineral dalam jumlah besar, serta bidang pertanian dan perikanan yang sangat baik. Sekitar 70,2% populasi di Sierra Leone berada di bawah garis kemisikinan. Sebagian besar dari orang-orang ini bermatapencaharian sebagai penambang berlian. Boleh jadi, pertambangan berlian ini merupakan satu-satunya hal yang bisa mengangkat nama negara ini. Sierra Leone termasuk dalam 10 besar produsen berlian berkualitas perhiasan antik top di dunia. Meskipun kaya akan berlian, negara ini memiliki sejarah perjuangan yang keras dalam mengurus eksploitasi dan ekspor berliannya hingga sampai seperti sekarang ini.

Dalam satu tahun, Sierra Leone sanggup memberi penghasilan negaranya sekitar 250-300US$ hanya dalam bidang produksi berlian saja. Sayangnya, uang ini banyak digunakan untuk money laundring dan berbagai aktifitas lainnya yang melanggar hukum. Salah satu kejadian unik di Sierra Leone yang berkaitan dengan berlian adalah tragedi “Blood Diamond’’. Perjuangan Sierra Leone dalam menghadapi konflik Blood Diamond diawali pada tahun 1991, ketika ratusan orang dari Liberia menyeberang batas dan menyerang kota dibagian utara dan selatan Sierra Leone. Pada tahun 1992, Revolutionary United Front (RUF), sekelompok grup pemberontak Liberia, menduduki Kono, pusat kota pertambangan berlian pada Sierra Leone. Usaha untuk meredam pemberontakan ini diwujudkan oleh NPRC (National Provisional Ruling Council) dengan berperang melawan kelompok pemberontak RUF. Untuk memberantas RUF, NPRC berinisiatif melaksanakan sebuah operasi yang bernama ”Operasi Genesis”. Namun, operasi ini gagal dan malah jadi titik awal kehancuran bagi Sierra Leone. Berawal pada pemilu tahun 1996 di Sierra Leone, untuk mengintimidasi penyumbang suara berpotensial dan menguasai tambang di negeri ini, RUF melaksanakan sebuah aksi yang sangat brutal. Kelompok pemberontak ini memotong kedua tangan orang dewasa, remaja, anak kecil, bahkan bayi yang hadir pada saat itu. Dikarenakan serangan ini, maka pemerintah mau tak mau mengundang RUF untuk berpartisipasi pada pemilu tahun 1996. Sadisnya, RUF malah terkesan tidak peduli dan tetap melancarkan aksi kejamnya dalam mengamputasi tangan dan kaki para penduduk yang tidak berdosa. Bulan November 1996, presiden baru Sierra Leone, Ahmad Tejan Kabbah terpilih. Ia pun menandatangani perjanjian perdamaian di Abidjan, yang memberikan kesempatan emas pada RUF untuk menjadi partai politik yang berdiri secara sah. Sebagai gantinya, RUF bergabung dengan pemberontak-pemberontak lainnya membentuk AFRC (Armed Forces Ruing Council), yang malah menggulingkan Kabbah. Pada periode ini, tidak ada intervensi internasional pada kedua belah pihak.

Akhirnya, Februari tahun 1998, Nigeria yang memimpin pasukan militer ECOMOG (Economic Community of West African States) mengusir pemberontakan AFRC dan mengembalikan tahta Kabbah. Namun, pasukan Nigeria ini tak mampu membendung pemberontakan RUF yang pada bulan Januari tahun 1999, menewaskan 6000 penduduk dan memutilasi lebih banyak orang lagi. Panglima besar Liberia, Charles Taylor yang kemudian menjadi presiden Liberia ini adalah dalang dibalik semua kejahatan Blood Diamond ini. Ialah yang menjadi aktor, mentor, dan pelaku dibalik kesuksesan RUF dalam memperbaharui persenjataannya untuk melakukan pemberontakan. Semua pembiayaan ini didapatkannya, karena berhasil mengusai Sierra Leone yang merupakan salah satu pusat berlian dunia. Juli 1999, Sierra Leone dipaksa lagi menyetujui perjanjian perdamaian dengan RUF di Lome, Togo. Syarat perjanjian ini adalah memberikan kekuasaan legislatif pada RUF, serta memberikan posisi pada beberapa anggotanya di kabinet pemerintahan. Sekali lagi, RUF seperti tidak peduli pada pembangunan Sierra Leone. RUF hanya memikirkan pengusaan daerah tambang berlian Sierra Leone. Akibatnya, lebih banyak lagi korban mutilasi yang berjatuhan dikarenakan juga tidak adanya intervensi internasional pada waktu itu.

Tidak ada intervensi PBB terhadap konflik yang berkecamuk di Sierra Leone sampai dengan bulan Juni 2001. 10 tahun setelah perang ini mulai. Dan dibandingkan dengan kebrutalan pembunuhan yang dilakukan oleh RUF, sanksi PBB terkesan lunak. Yakni larangan penjualan berlian oleh Liberia, larangan bepergian kepada pegawai Liberia termasuk juga presidennya, serta larangan memiliki persenjataan berat. Sayangnya, mustahil bagi PBB untuk menjalankan larangan ini. Tahun 2001, Issa Sesay, salah satu pimpinan RUF, pergi ke Abidjan dengan membawa 8.000 karat berlian yang Ia jual pada 2 pentransaksi gelap. PBB juga tidak benar-benar terlibat pada perang di Sierra Leone, sebelum bulan Januari 2002. Pada saat itu, akhirnya PBB mengirimkan 17.000 pasukan perdamaian untuk mengawasi pelucutan senjata dan untuk mendukung kesepakatan Lome. Perang pada Sierra Leone mulai mendapat perhatian internasional setelah pasukan perdamaian PBB ini dilarang menginvestigasi pertambangan berlian yang dikuasai RUF. Pada bulan maret 2003, mahkamah internasional PBB mendakwa beberapa pihak yang terlibat dalam perang saudara di Sierra Leone sebagai kriminal perang, kriminal dalam masalah kemanusiaan dan kekerasan penyelewengan HAM internasional. Tapi, nasib dari para terdakwa ini tidak jelas. PBB menganggap dakwaan itu sudah lebih dari cukup. Aspek yang paling mengkhawatirkan adalah telatnya respons internasional terhadap kejadian genosida yang telah menelan banyak korban jiwa ini. Seperti pada 2 kasus lainnya di Rwanda dan Sudan yang cukup serupa, dunia seakan menutup mata pada kerasnya perjuangan orang Afrika untuk hidup layak serta aman dan tentram.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar