Alergi Kepiting, Self Experience

Berawal dari pengalaman pribadi sekitar 3 tahun yang lalu. Pada saat memakan kepiting, belum sempat habis satu ekor kepiting, tiba-tiba bibir sudah terasa gatal dan mulai membengkak. Langsung saja memvonis diri memiliki alergi pada kepiting. Setelah itu, sampai dua hari yang lalu, tidak pernah lagi mengonsumsi kepiting apapun bentuknya. Hingga ada satu pilihan menu di salah satu restoran terkenal, 'nasi goreng kepiting', tanpa ragu memesannya dan menghabiskan satu piring menu itu. Awalnya sudah teringat bahwa pernah mengalami alergi kepiting, tetapi saat itu merasa yakin bahwa alergi kali ini tidak akan kambuh. Sampai sore harinya, badan mulai terasa gatal. Bentol-bentol seperti gigitan nyamuk mulai muncul. Hingga malam hari, hampir seluruh badan sudah bengkak dan terasa sangat gatal. Susah tidur dan kepala terasa pusing. Itulah efek dari memakan kepiting pagi tadi. Namun, untungnya pagi setelah bangun tidur, efek itu sudah hilang dan dapat beraktifitas seperti sedia kala. Kali ini benar-benar tak akan memakan kepiting lagi. Kapok!


Berikut penjelasan mengenai alergi pada kepiting.

Menurut beberapa studi terjadinya alergi ini disebabkan oleh hipersensitifitas tubuh terhadap makanan yang mengandung protein tinggi. Kita tahu bersama bahwa udang, kepiting atau sebagian besar ikan laut mengandung banyak sekali protein atau turunannya. Bagi mereka yang tubuhnya tidak dapat menolerir kadar protein tinggi dari bahan–bahan tersebut, biasanya akan timbul reaksi yang menunjukkan perlawanan tubuh terhadapnya. Gejala yang mungkin timbul dapat beraneka ragam, mulai dari bercak kemerahan hingga pusing atau susah bernafas. Bagi mereka yang mengalami gangguan terhadap makanan laut, cara yang paling mudah untuk mengatasinya adalah dengan menghindari mengonsumsi jenis makanan tersebut. Beberapa penelitian menemukan bahwa alergi sebenarnya sulit untuk disembuhkan, namun hanya dapat dikurangi reaksinya.


Gejala yang timbul akibat adanya alergi kepiting
Secara umum, proses pencernaan makanan yang terjadi di dalam tubuh akan memakan waktu, maka dari itu, gejala alergi dapat saja timbul dalam hitungan menit setelah makanan masuk atau bahkan baru akan timbul setelah beberapa jam. Gejala awal dari alergi terhadap kepiting dapat bermacam – macam, namun yang paling umum adanya munculnya rasa gatal pada mulut, kesulitan untuk menelan dan susah bernafas. Saat kepiting yang dimakan sudah mencapai lambung dan usus halus, gejala yang timbul biasanya adalah rasa mual, diare, muntah – muntah dan nyeri di perut.
Kita juga perlu mengetahui bahwa makanan disalurkan oleh pencernaan melalui peredaran darah ke seluruh tubuh. Maka dari itu, saat sari – sari dari kepiting mencapai kulit, maka akan memicu terjadinya eksim. Saat mencapai paru – paru, gejala Alergi kepiting yang timbul biasanya adalah kesulitan bernafas ataupun asma. Gejala yang paling menakutkan adalah anafilatik syok yang ditandai dengan menurunnya tekanan darah dan kesadaran. Pada tahap ini, apabila penderita tidak mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat dapat menyebabkan kematian.
Cara menangani alergi kepiting
Menghindari kepiting adalah hal yang paling mendasar yang harus dilakukan. Cara yang lebih terprogram adalah dengan membuat daftar menu makanan apa saja yang tidak boleh dimakan karena mengandung bahan kepiting di dalamnya. Bila kepiting secara tidak sadar termakan lalu menimbulkan gejala alergi, maka perlu dilakukan pengobatan terhadap gejala yang timbul.
Pemberian antihistamin dapat dilakukan apabila terjadi gejala pada kulit, saluran pencernaan, bersin, asma serta rasa tidak nyaman pada hidung. Apabila gejala yang muncul tergolong berat dan membahayakan, maka perlu dibawa ke dokter agar mendapatkan perawatan yang lebih lanjut untuk mengatasi gejala serta menanggulangi bahaya akibat alergi kepiting yang terjadi.
Adapun yang dimaksud antihistamin (antagonis histamin) adalah zat yang mampu mencegah penglepasan atau kerja histamin. Istilah antihistamin dapat digunakan untuk menjelaskan antagonis histamin yang mana pun, tetapi seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk kepada antihistamin klasik yang bekerja pada reseptor histamin H1. 
Antihistamin ini biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi, yang disebabkan oleh tanggapan berlebihan tubuh terhadap alergen (penyebab alergi), seperti serbuk sari tanaman. Reaksi alergi ini menunjukkan penglepasan histamin dalam jumlah signifikan di tubuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar